Kalau bicara tentang donor darah, saya teringat ketika pertama kali mendonorkan darah. Ketika itu masih duduk di bangku SMA di sebuah SMA swasta yang terkenal di Kota Jember – Jawa Timur di jalan Trunojoyo. Motif mendonorkan darah ketika itu adalah keluar dari kelas, melepas kejenuhan sejenak dari pelajaran. Istilah kerennya malas mengikuti pelajaran hahaha… Jangan ditiru yaa…
Setelah mendonorkan darah, sesampainya di rumah saya ‘dimarahi’ oleh orang tua. Mulai dari ketagihan, kalo tidak donor badan tidak enak, nanti bisa gendut, ketularan penyakit, dan bla..bla..bla… Boleh dikatakan omongan orang tua saya tadi tersebut adalah mitos. Mitos yang saya dengar dan saya ingat adalah nanti bisa gendut, ini yang saya cari. Berat badan saya ketika itu berada di kisaran 60 kg dengan tinggi 173cm. Idealnya berat badan saya di angka 70 kg.
Setamat SMA, saya melanjutkan perkuliahan di sebuah perguruan tinggi swasta yang baik dan terkenal di Surabaya yang berada di jalan Siwalankerto. Di perkuliahan, saya malah aktif di sebuah UKM bernama Korps Sukarela dimana kegiatan Donor Darah adalah salah satu kegiatan rutinnya. Donor darah pun rutin saya lakukan selama perkuliahan.
Setelah kuliah, saya bekerja di beberapa tempat sampai dengan menikah kemudian pindah ke Kota Kediri. Kegitan donor darah pun tetap rutin saya lakukan sampai dengan hari ini. Faktanya hari ini berat badan saya masih juga di kisaran 60 kg dan saya sudah lebih dari 50x donor darah. Jadi untuk itu, simak beberapa mitos yang masih kuat beredar di kalangan masyarakat yang paling tidak membuat orang enggan untuk mendonorkan darah :
MITOS: Orang yang menjalani pola makan vegetarian dilarang mendonorkan darah karena tubuhnya kekurangan zat besi.
FAKTA: Orang vegetarian juga bisa menyumbangkan darahnya bila menginginkan. Waktu satu bulan sudah cukup untuk menggantikan zat besi yang hilang karena donor sebelumnya. Zat besi tersebut disimpan dalam tubuh sampai bisa waktunya digunakan. Dengan kata lain, kebutuhan tubuh akan zat besi bisa diisi ulang lewat konsumsi makanan dengan gizi seimbang.
MITOS: Proses menyumbangkan darah itu amat menyakitkan.
FAKTA: Memang Anda akan merasakan sakit saat jarum ditusukkan ke lengan untuk proses pengambilan darah, tetapi hanya sedikit, seperti digigit semut. Mungkin juga akan timbul sedikit nyeri di tempat jarum usai proses pengambilan darah, tetapi itu hanya sementara.
MITOS: Anda seperti membuka pintu bagi masuknya penyakit HIV dan infeksi lainnya dengan mendonorkan darah.
FAKTA: Semua proses pengambilan darah sudah melalui Standard of Operation yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), diantaranya selalu dipakai jarum baru dan semua alat sudah melalui proses sterilisasi, sehingga aman sedikit kemungkinan orang yang donorkan darah tertular penyakit infeksi atau semacamnya. Selain itu, tidak ada darah yang akan masuk ke dalam tubuh saat donor darah.
MITOS: Donor darah butuh waktu lama, jadi jangan melakukannya di tengah pekerjaan.
FAKTA: Proses untuk donor darah hanya memakan waktu paling lama sekitar satu jam. Sebelumnya pendonor harus menjalani pemeriksaan tekanan darah dan kadar hemoglobin. Proses ini tidak butuh waktu lama. Pendonor juga bisa kembali melanjutkan aktivitasnya, setelah darah diambil yang prosesnya memakan waktu tidak lebih dari 10 menit.
MITOS: Donor darah membuat tubuh menjadi gemuk.
FAKTA: Tidak ada hubungan antara donor darah dengan tubuh yang menggemuk. Tubuh menjadi gemuk karena kalori yang diasup lebih besar daripada yang dikeluarkan.
MITOS: Hanya orang gemuk yang boleh menyumbangkan darahnya karena darah mereka berlebihan.
FAKTA: Bertubuh gemuk bukan berarti Anda punya lebih banyak darah dalam tubuh. Tubuh manusia rata-rata memiliki persediaan darah hingga 5.000 ml. Nah, proses donor darah hanya “mengambil” 250-500 ml. Jadi, bertubuh kurus pun, bila Anda sehat dan memenuhi syarat sebagai pendonor, Anda bisa tetap donor darah.
MITOS: Donor darah menimbulkan kecanduan, tubuh seperti pegal-pegal bila lama tidak donor darah.
FAKTA: Nonsen. Tidak ada hubungan antara donor darah dengan kondisi kecanduan atau semacamnya karena prosedur yang bisa menyelamatkan nyawa orang lain ini sama sekali tidak mengubah proses metabolisme tubuh.
MITOS: Orang yang menderita penyakit kanker tidak boleh donor.
FAKTA: Penderita kanker jenis tertentu memang dilarang berdonor. Namun, penderita kanker jenis lain tetap diperbolehkan menyumbangkan darahnya. Sebelum berdonor, mintalah saran dari dokter Anda.
MITOS: Donor darah bikin tubuh melemah atau hilang kekuatan.
FAKTA: Namun, banyak orang yang merasa setelah mendonorkan darah membuat mereka merasa lemah. Sekali lagi, ini tidak benar. Kenyataannya bahwa dibutuhkan satu atau dua hari untuk mengisi volume cairan dalam tubuh dan tiga bulan untuk regenerasi sel darah merah agar dapat menyumbangkan lebih banyak darah.
MITOS: Beristirahat penuh selama sehari setelah menyumbangkan darah.
FAKTA: Anda dapat dengan mudah melanjutkan kegiatan sehari-hari secara rutin setelah menyumbangkan darah, tetapi dengan catatan:
- Cukupi kebutuhan cairan dengan meminum banyak air putih ata jus dalam waktu 24 jam setelah donor dara
- Hindari paparan sinar matahari
- Hindari mengemudi selama 2-3 jam berikutnya
- Hindari merokok selama 4 jam
- Hindari alkohol untuk 24 jam
MITOS: Donor menurunkan tingkat kekebalan tubuh.
FAKTA: Tingkat kekebalan tubuh Anda tidak terpengaruh hanya karena Anda mendonorkan darah.
MITOS: Mendonorkan darah dapat berfluktuasi terhadap tekanan darah dan kadar gula darah.
FAKTA: Donor darah tidak akan mempengaruhi tekanan darah dan kadar gula darah. Tetapi, seorang pasien diabetes yang sedang menerima insulin tidak dapat menyumbangkan darahnya.

Semoga melalui mitos dan fakta di atas dapat mengubah pemikiran yang salah tentang donor darah. Donor darah memiliki banyak manfaat, terutama bagi pria. Demikian artikel kali ini tentang Donor Darah dan Mitos. Tetap lah berdonor darah dan menjadikan donor darah menjadi salah satu gaya hidup sehat. Terima kasih dan semoga bermanfaat.
